Sindrom 20

Baru saja saya menerima satu pesan singkat dari teman satu kampus. Bunyi pesannya sederhana, bahkan sangat sederhana. Hanya satu undangan, salah satu teman kuliah akan menikah hari sabtu besok. Dari pesan itu, ada satu pikiran yang tiba-tiba melintas di kepala saya. 

“Saya mengalami sindrom 20”.

Sindrom 20 di sini bukan sindrom yang biasanya dibahas di pertandingan bulutangkis (jadi ingat tadi Indonesia bisa meraih dua emas di Indonesia Open. Go Indonesia, go Indonesia, go!…^_^ ), tapi sindrom ini adalah sindrom akan selepas masuk usia 20.

Saya lebih takut akan masalah-masalah. Bukan takut akan tua, kulit nantinya keriput atau tidak menarik lagi. Saya hanya takut akan kehidupan saya di masa depan. Sesuaikah hidup saya nantinya dengan apa diimpikan dulu? Apa semua isi rencana yang dulu saya buat bisa dikabulkan Tuhan?

Saya termasuk dalam orang-orang yang suka berpikir jangka panjang. Bahwa setiap kejadian akan menimbulkan efek pada kejadian berikutnya. Itulah mengapa saya termasuk dalam kelompok orang yang suka membuat rencana. Hal apapun sebisa mungkin saya rencanakan.

Rencana terdekat saya, bisa lulus kuliah tahun depan ini (amii..nnn!!). Tapi justru pertanyaan muncul sebelum pertanyaan apa saya lulus itu terjawab. Setelah lulus, apa yang akan saya lakukan? Apa selepas lulus itu saya akan mendapat kerja atau justru menambah angka tingkat pengangguran di Indonesia? Dan pertanyaan lain juga muncul, apa saya akan menikah? Setelah itu, apa saya bisa punya anak dari rahim sendiri? Sepertinya pertanyaan-pertanyaan tidak pernah berhenti muncul di pikiran saya.

Saya takut tidak bisa menyelesaikan masalah. Bahkan ada satu perasaan yang muncul, saya ini adalah seorang anak kecil yang terperangkap di tubuh orang dewasa. Hanya tubuh yang terlihat dewasa, tapi pikiran saya tidak. Umur saya terus bertambah, tapi sikap dan sifat tidak bisa mengikuti perkembangan tubuh.

Setiap umur memiliki satu masalah sendiri, yang biasanya dihadapi setiap orang, termasuk saya. Dan saat ini saya memasuki titik dimana merasa ketakutan akan masa depan, yang mungkin tidak hanya saya saja yang mengalaminya. Takut sebelum melangkah, takut akan masalah yang belum dihadapi, takut tidak bisa menyelesaikan satu masalah. Ketakutan-ketakutan yang sulit saya ungkap.

Mungkin orang-orang yang sudah melewati masa saya ini akan berkata, “Ini tidak sesulit yang kamu pikirkan, pasti akan terselesaikan tanpa kamu sadari”. Seperti saya mengatakan pada diri saya sendiri ketika menyelesaikan masalah-masalah yang dulu saya hadapi di usia remaja. Masalah yang bila saat ini saya ingat-ingat lagi, masalah itu tidak sesulit yang saya pikirkan sebelum mengalaminya. Saya ingin nantinya bisa mengatakan itu lagi, mengatakannya untuk kedua kalinya.

Mungkin yang saya bisa lakukan saat ini adalah fokus pada apa yang terjadi saat ini, seperti yang pernah saya dengar dari mulut ibu Oprah Winfrey ketika membahas buku A New Earth (penasaran juga dengan buku itu). Berpikir positif, bahwa masa depan saya bisa sesuai dengan apa saya harapkan bila saya ingin dan mau. Saya percaya dengan apa yang disebut dengan kekuatan pikiran. Bila berpikir baik, disertai dengan usaha, maka hasilnya pun akan baik.

Sejalan dengan satu pemikiran yang tidak pernah saya hilangkan, jangan berhenti bermimpi dan jangan menjadi seorang pemimpi yang berharap mimpi itu akan jatuh begitu saja dari Tuhan tanpa usaha apapun.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s