(Membuka) Pintu Terlarang

Lewat karya terbarunya, Pintu Terlarang, Joko Anwar mampu membius saya lagi setelah Kala. Menonton film ini, secara tidak langsung mengingatkan saya akan Kala. Selain faktor pemilihan pemain utama yang sama, setting kota yang ditampilkan tidak jauh berbeda. Atau mungkin setting kota seperti itu sengaja ditampilkan oleh Joko sehingga menjadi ciri tersendiri dalam setiap karyanya. Setting dengan bangunan-bangunan tua yang membuat kota tersebut seolah berada di satu daerah antah berantah, negara khayalan, negara fiksi rekaan sang sutradara.

Film ini merupakan adaptasi novel karangan Sekar Ayu Asmara dengan judul yang sama. Bercerita tentang seorang pematung bernama Gambir, yang digambarkan sebagai lelaki lemah yang hidup tanpa motivasi untuk menang. Dengan istri dan ibu yang cukup dominan dalam kehidupannya, Gambir semakin terlihat lemah. Hingga pada satu saat secara tidak sengaja Gambir terlibat dalam satu organisasi rahasia yang tanpa disangka melibatkan orang-orang terdekatnya sekaligus membuat perubahan dalam sikap dan hidupnya.

Kelebihan dari film ini memang ada pada ide cerita. Ending yang tidak terduga turut memberi nilai tambah. Beberapa bagian cerita membuat saya teringat dengan beberapa film. Bagian awal mengingatkan saya pada ciri khas yang ada di setiap film James Bond. Jika Anda sudah menonton, mungkin Anda bisa menebak bagian mana yang saya maksud. Keterlibatan organisasi rahasia mengingatkan saya pada film Hostel dan 13 Tzametti. Dan bagian menjelang akhir membuat saya berkata dalam hati, “Sedikit mirip film Identity”.

Pemberian warna hijau dan merah yang dominan memberikan rasa tersendiri pada setiap bagian film. Rasa sejuk dan nyaman di awal film, serta rasa mengerikan di akhir film dibantu dengan pemakaian kedua warna tersebut. Adrenalin saya cukup dibuat terpacu di beberapa adegan dan film ini mampu membuat rasa penasaran saya konsisten sampai akhir, benar-benar sampai akhir. Catatan untuk Anda, jangan tinggalkan kursi Anda sampai film ini benar-benar selesai. Bersabarlah sejenak sampai credit title selesai ditayangkan.

Sayangnya alur film ini terkesan lambat di awal, bagian awal menjadi sedikit kurang menarik. Bila diibaratkan acara makan malam, makanan pembuka yang disajikan tidak menggetarkan selera. Teknik Gambir dalam membuat patung, yang bila diketahui orang akan membuatnya masuk penjara, yang sebenarnya cukup menarik perhatian juga kurang digali sehingga pada pertengahan dan akhir film, bagian itu menjadi terlupakan dan berkesan menjadi kurang penting.

Pengucapan dialog yang dilakukan oleh Fachri Albar di beberapa bagian terdengar kurang jelas. Mengingat dialog merupakan bagian penting dalam film ini sehingga cukup mengganggu dalam pemahaman cerita terutama bagi penonton yang belum membaca novelnya, seperti saya ini. Marsha Timothy kali ini bermain berbeda dari peran yang dimainkan dalam film-film sebelumnya yang kebanyakan bergenre drama romantis. Dan untuk Tio Pakusadewo, entah kenapa saya dibuat terkesima olehnya setelah menonton film Claudia/Jasmine.
Adegan merokok di film ini terlihat sangat banyak, hampir di setiap adegan Gambir terlihat tidak pernah lepas dari rokoknya. Sangat disayangkan. Padahal lembaga yang berwenang terhadap film di Amerika saja, yang kalau disamakan dengan Indonesia adalah LSF, sudah melarang adanya adegan merokok karena berpengaruh negatif pada remaja. Entah apakah tokoh yang dimaksud memang digambarkan sebagai seorang perokok berat sehingga berpengaruh pada banyaknya adegan merokok di film ini. Atau justru karena salah satu sponsor yang ada adalah perusahaan rokok?…:)

Secara keseluruhan saya cukup dibuat puas dengan persembahan terbaru dari Joko Anwar ini. Membuat saya teringat bahwa masih ada film Indonesia yang memiliki kualitas. Masih ada sineas Indonesia yang berani membuat karya yang tidak terpaku pada pasar dan tren film Indonesia yang ada saat ini. Dimana film Indonesia masih marak dengan horor yang terkesan menakut-nakuti dan komedi slapstik berbau seks. Mungkin jika suatu hari ada yang bertanya pada saya, “Siapa sutradara dari Indonesia yang jadi favorit anda?”, Joko Anwar akan menjadi satu nama yang akan saya sebutkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s