Membangun Mimpi

April, 2010

Sinar matahari sore berteman dengan angin masuk menyeruak melewati jendela kamar berdinding merah muda berhiaskan poster film ‘Lemony Snicket’s A Series of Unfortunate Event’. Tempat tidur berwarna senada dengan dinding berdiri manis di pojok ruangan. Meja rias tua kecil mempermanis kamar tepat di ujung tempat tidur dan meja belajar kecil berdiri apik di sisi tempat tidur. Sesosok gadis duduk bersila di lantai marmer abu-abu, di tengah ruangan. Dia memilih untuk duduk di lantai, tidak di kursi belajarnya. Lantai yang dingin tidak dihiraukannya.

Buku catatan kecil terbuka di hadapannya. Keheningan menjalar saat dia membaca dalam hati dari huruf per huruf di lembaran putih di buku kecilnya.

‘Jadi wartawan’

‘New York’

‘London’

‘Dublin’

Si gadis menatap mimpi. She is one of member of the dream club since she was a little girl. Dia kemudian mengetuk-ngetukan pensil yang digenggamnya ke lantai. Sempat menghela nafas sesaat ketika membaca ulang rentetan huruf itu. Dibacanya kembali tulisan ‘Jadi wartawan’ di buku itu.

“Kenapa endingnya justru jadi sarjana ekonomi dan bukan kerja di media?”, katanya dalam hati sambil memukul-mukul pelan kepalanya sendiri. Ketika kecil gadis itu yakin salah satu mimpinya itu bisa membawanya untuk mewujudkan mimpinya yang lain.

In progress: 0,000025% completed.

Perkembangan mewujudkan salah satu mimpinya belum menunjukan perkembangan signifikan. Pensil diayun-ayunkannya tepat di atas tulisan ‘Jadi wartawan’. Ada keinginan untuk mengubur mimpi itu. Keputusan berat untuk mencoret tulisan itu. Mencoret bukan karena mimpi itu sudah terjadi, tapi tulisan itu harus dicoret dengan coretan kegagalan.

God knows what is the best for me”, katanya seiring dengan tangan yang menarik garis lurus dengan pensil tepat di atas tulisan ‘Jadi wartawan’.


8 Februari, 2011.

Jari telunjuknya terus menggerakan scroll ke atas dan ke bawah dari mouse yang tertancap ke laptopnya. Gadis pemilik meja belajar di ruangan berwarna merah muda itu membaca aneka artikel di internet. Artikel dari pertunjukan musik dari artis yang akan bertandang ke negeri seberang.

Should I go?”, tanyanya dalam hati. Keraguan menjalar di pikirannya. Dia belum pernah keluar dari negeri ini sebelumnya. Matanya berganti-gantian menatap antara layar laptop, membaca artikel, sampai ke aneka coretan di kertas yang bersebaran di meja kecilnya.

Website dari salah satu airlines yang terkenal dengan slogan ‘Now Everyone Can Fly’ dan dominan warna merah terpampang jelas di layar laptop.


23 Februari, 2011.

Tersungging senyum kecil yang sedikit demi sedikit terus mengembang dari gadis pemilik ruangan berdinding merah muda ini. Badannya bergoyang-goyang di atas tempat tidur. Tangannya memegang secarik kertas bertuliskan

Flight: AK389

Departing: Jakarta (CGK)

Soekarno Hatta Internnational Airport

Thu 17 Mar 2011, 2025 hrs ( 8:25PM)

 

Arriving: Kuala Lumpur (KUL)

Kuala Lumpur (LCC Terminal)

Thu 17 Mar 2011, 2325 hrs ( 11:25PM)

My first overseas trip!”, ucap si gadis dengan riang, “Dan dengan biaya sendiri”. Senyumnya terus mengembang bangga.

217361_1841004318257_5355365_n


Maret, 2011.

Ujung buku catatan itu agak sedikit robek. Jari gadis berambut pendek pemilik meja rias tua di kamar berwarna merah muda itu memegang ujung dari buku catatannya. Bukunya boleh saja robek dan lusuh di luar, tapi isinya masih belum berubah. Mimpinya masih tersimpan rapi di setiap lembarnya. Gadis itu belum keluar sebagai anggota dari klub mimpi.

In progress: 0,1% completed.

Ada kemajuan untuk melangkah lebih dekat menuju mimpi-mimpinya. Gadis itu sudah menapak 1 langkah menuju mimpi. Negeri impiannya jauh berada di salah satu belahan dunia lainnya dari negeri tempat dia berpijak sekarang. Kalau dia sudah pernah melangkah ke negeri seberang, bukan berarti tidak mungkin dia bisa berjalan di negeri di belahan dunia yang lain, dengan kakinya sendiri.


Mei, 2012.

Selembar boarding pass sudah di tangan. Gadis itu menatap selembar kertas bertuliskan Flight D7506 yang akan membawanya terbang ke salah satu negeri di Asia Timur. Kakinya bergerak-gerak penuh semangat ketika menuju pintu keberangkatan. Dia mencoba untuk membayangkan suasana di Namsan Tower, bersantai mencelupkan kaki di air dingin musim semi di Cheonggyecheon Stream, atau menikmati semangkuk samgyetang yang hangat di Pulau Nami.

2013-05-20 12.10.20


Juli, 2014

Poster film ‘Lemony Snicket’s A Series of Unfortunate Event’ itu terlihat lusuh di dinding berwarna hijau muda. Tempat tidur berwarna senada dengan dinding berdiri manis di pojok ruangan. Meja rias tua kecil mempermanis kamar tepat di ujung tempat tidur dan meja belajar kecil berdiri apik di sisi tempat tidur. Sesosok gadis duduk bersila di lantai marmer abu-abu, di tengah ruangan. Gadis itu menatap buku catatan kecilnya.

‘Jadi wartawan’

‘New York’

‘London’

‘Dublin’

Jari-jari gadis anggota klub mimpi itu memainkan pensil. Senyumnya tersungging, matanya pun ikut tersenyum yakin. Dia mulai merangkai dan membangun mimpi-mimpi lain di buku kecilnya.

‘Turki. Ride the hot baloon in Cappadocia

‘Makan spaghetti asli di Italia’

Explore Indonesia more!

See the world

Rangkaian mimpinya tidak berkurang, justru semakin bertambah panjang. Satu langkah awal yang pernah ia lakukan mengubah semuanya. Gadis anggota klub mimpi itu yakin mimpinya bisa terwujud satu demi satu. Mimpinya semakin jelas.

Gadis itu ingin melihat, menikmati, merasakan indahnya dunia. Because now she is sure that she can fly around the world. Everyone had a chance to fly. Yes, everyone can fly!

Dream-of-travel_around_the_world

 


 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s