Perjuangan Menuju Onsen di Kawaguchi

Kawaguchi. Lokasi yang sudah saya tag jauh-jauh hari sebelum menyusun itinerary. Di trip yang lalu, saya mencoba peruntungan untuk melihat gunung Fuji lewat Hakone. Tapi..saya kurang beruntung. Gunung Fuji malu-malu keluar dari balik awan. Kelihatan sekilas, tapi kurang jelas.

Niat awal saya di itinerary, dari Takayama saya akan langsung bertolak ke Kawaguchi. Melihat posisi di Google map, Kawaguchi lebih dekat ke Takayama daripada Tokyo, tentunya rute yang baik adalah Takayama-Kawaguchi-Tokyo. Tapi transportasi berkata lain. Mencari transportasi dari Takayama ke Kawaguchi itu susah, mendekati mustahil. Mungkin ada, tapi dengan bahasa Jepang level tengkurap, akhirnya saya menyerah setelah browsing sana sini dan memilih ke Tokyo dulu kemudian dilanjutkan ke Kawaguchi setelah bermalam di Tokyo.

Untuk menuju Kawaguchi bisa menggunakan bis atau kereta, tapi yang banyak digunakan adalah bis. Gampang dan murah. Dari Tokyo, bis menuju Kawaguchi berangkat dari Shinjuku dan Shibuya. Disarankan lakukan reservasi terlebih dahulu jauh-jauh hari karena rute ke Kawaguchi ini laris manis, terutama keberangkatan dari Shinjuku. Saya memesan kurang lebih 2 minggu sebelum hari H, dan itu pun beberapa jadwal sudah habis terpesan. Jadwal yang saya incar pertama pun juga sudah habis. Ternyata ketika hari H, memang bis terisi penuh. Mayoritas, atau bisa dibilang, hampir semua penumpangnya justru orang Jepang. Untuk jadwal dan pemesanan, bisa dilihat di sini.

IMG_20160311_085958
Interior bis Shinjuku – Kawaguchi

Perjalanan menuju Kawaguchi memakan waktu sekitar 1 jam 45 menit. Mendekati Kawaguchi, ternyata cuaca bersalju. Cukup deras. Sebenarnya saya sudah mengantisipasi memang akan ada salju di Kawaguchi, tapi tidak menyangka juga kalau saljunya deras begini. Apa bisa melihat Fuji-san dengan cuaca begini? Sepertinya saya kurang beruntung lagi bertemu Fuji-san *sigh

Sampai di Kawaguchiko, salju masih turun cukup deras. Agak enggan juga turun dari bis melihat salju begitu, pasti dingin luar biasa. Turun dari bis, udara dingin langsung menusuk kulit wajah. Suhu ‘hanya’ 0 derajat celcius, beberapa kali -1 atau -2. Saya buru-buru masuk ke stasiun kereta yang juga merangkap toko souvenir dan restoran.

IMG_20160311_102019
Kawaguchiko Station

Sempat bingung selama beberapa menit karena dengan cuaca begini otomatis rencana awal saya jadi bubar jalan. Bengong sebentar di stasiun, keluar masuk. Keluar karena bingung, masuk karena kedinginan di luar. Sebenarnya di luar ataupun di dalam sama saja dinginnya. Akhirnya saya memutuskan untuk ke tourist information, bertanya rekomendasi apa yang bisa dilakukan di Kawaguchi di cuaca begini.

Setelah menceritakan kegalauan saya kepada petugas tourist information yang alhamdulillah bahasa Inggrisnya lancar banget, dia menyarankan untuk mencoba onsen atau pemandian air panas, dengan alasan cuaca sangat mendukung dan ga mungkin banget bisa lihat Fuji-san di tengah hujan salju begini. Tadinya dia memang merekomendasikan kalau cuaca sedang bagus, bisa pergi ke Kawaguchiko Natural Living Center, spot dimana bisa melihat Fuji-san dengan lumayan jelas. Saya tanya lagi di situ ada apa lagi selain bisa melihat Fuji-san karena sudah mustahil untuk melihat Fuji. Lumayan lama dia berpikir, then she said, “Nothing”. Baiklah….

Petugas yang baik hati itu juga menyarankan mencoba Kachi Kachi Ropeway dan Kawaguchi Music Forest Museum yang sebenarnya juga masuk di itinerary saya. Niat awal, untuk berhemat saya mau jalan kaki dari Kawaguchiko station ke Kachi Kachi. Ketika saya bilang begitu ke petugas tourist information, dia shock. “Do you want to walk with this kind of weather? In this snow?”. Baiklah….

IMG_20160311_093054
Sightseeing Bus, bis untuk tujuan ke Kachi Kachi Ropeway dan beberapa tourist spot lainnya di Kawaguchi

Setelah lama berkonsultasi di tourist information center, akhirnya saya memutuskan untuk memilih onsen. Masih sedikit kecewa karena lagi-lagi tidak beruntung bertemu Fuji-san, tapi paling tidak dapat pengalaman ber-onsen ria langsung di Jepang.

Dengan berbekal jadwal bis dan nama halte sudah diberi tanda oleh petugas tourist information, supaya memudahkan saya untuk tahu dimana harus turun nanti, dengan yakin melangkah keluar untuk membeli tiket bis. Untuk menuju onsen ini, bis yang ditumpangi adalah Fujikyu Yamanashi bus, bukan sightseeing bus. Tiket bisa dibeli di loket di stasiun, dengan menginfokan kepada petugas tujuan mana kita ingin pergi, atau bayar langsung di bis.

Sebenarnya saya tipe orang yang takutan kalau naik bis dalam kota di negara yang bahasa utamanya bukan bahasa inggris, karena pendengaran harus jeli menangkap nama halte tujuan atau harus sudah tahu betul akan turun di mana. Kalau ada subway, walaupun lebih mahal, maka saya lebih memilih subway. Naik bis itu punya resiko kalau kelewat sedikit, bisa bablas yang dilanjutkan dengan harus mengendalikan kepanikan. Mungkin kalau di drama Korea saya berubah jadi karakter yang panik sambil meracau, ‘eottokhae…eottokhae?’

Ketakutan saya naik bis dalam kota pun terjadi di perjalanan menuju onsen ini. Di kertas tertulis saya harus turun di pemberhentian ke 8 setelah Kawaguchiko station. Tapi ternyata kenyataan di lapangan, antara kertas dengan nama halte yang disebutkan di bis tidak sama, sodara-sodara! Banyak nama asing yang tidak tertulis di kertas, yang berarti halte tujuan saya bukan pemberhentian ke 8. Telinga saya pasang lebar untuk mendengarkan suara wanita dari mesin yang menyebutkan nama halte, yang tentu saja dalam bahasa Jepang yang saya nggak ngerti sama sekali, dengan kertas yang saya pegang untuk memastikan saya harus menekan tombol berhenti di halte yang tepat.

Di jadwal, seharusnya saya sudah sampai halte tujuan sekitar jam 10:40. Selain membuka telinga lebar-lebar, melihat kertas rute, saya juga selalu mengecek jam. Kenapa saya tidak bertanya ke penumpang di bis? Well…penumpang yang ada di bis itu cuma ada supir, saya, dan kakek Jepang. Supir tidak boleh diajak bicara. Kakek Jepang, tidak bisa bahasa Inggris. Jadilah saya ketar ketir sendirian. Memang sih, seharusnya saya bicara dulu ke supir ketika naik bis saya mau turun di mana, seperti yang dulu saya lakukan di Taiwan. Tapi efek pintu masuk bukan di bagian depan, saya jadi lupa *toyor kepala sendiri.

Jam sudah menunjukan lebih dari pukul 10:40, tapi kenapa rasanya saya belum mendengar nama halte tujuan saya disebutkan ya? Sampai akhirnya saya mendengar mesin menyebutkan ‘Hyoketu’. Saya lihat di kertas rute, itu halte setelah halte tujuan saya! Berarti ini sudah kebablasan! Mungkin saya tidak begitu khawatir kalau di kota, tapi ini kondisinya di gunung, banyak hutan, yang tentunya kalau asal turun di halte yang wilayahnya sepi, tidak ada orang yang bisa ditanya. Cuaca bersalju pula. Dan dengan kenyataan saya berada di wilayah dekat dengan hutan Aokigahara semakin membuat dag dig dug jeder.

Setelah mengatur nafas, saya memutuskan untuk berjalan ke kursi belakang, ke arah kakek Jepang duduk dan bertanya, dalam bahasa inggris. Daripada saya bingung sendiri, lebih baik mencoba bertanya, walaupun dengan resiko tidak dapat apa-apa. Saya menunjukan kertas rute bis dan brosur onsen ke si kakek dan menunjukan nama halte tujuan. Cukup lama kakek itu melihat kertas itu. Mungkin dia bingung maksudnya apa.

IMG_20160410_123911-01
Kertas rute & time table Fujikyu Yamanashi bus dan brosur onsen

Setelah beberapa menit dalam perbincangan yang absurd dengan si kakek, well..saya bicara dalam bahasa inggris dan si kakek dalam bahasa Jepang, akhirnya kakek itu mengerti kalau saya ini kebablasan. Dia bicara panjang lebar, yang mungkin dia pikir saya ngerti dia ngomong apa karena saya membuka percakapan dengan kata ‘sumimasen’. Mungkin dia pikir saya bisa bahasa Jepang sikit-sikit…orz. Saya sampai garuk-garuk kepala, bingung mencerna kalimatnya.

Sampai akhirnya terdengar halte ‘Akaike’ disebutkan, yang entah bagaimana saya bisa mengerti maksud si kakek untuk menyuruh turun di sini saja. Saya segera menekan tombol berhenti. Laju bis melambat dan ada bangunan di dekat halte. Si kakek menunjuk ke arah bangunan itu dan melakukan gerakan tangan yang kurang lebih artinya, ‘coba tanya di situ’.

Turun dari bis, segera saya berjalan ke arah bangunan yang tadi terlihat dari bis, yang ternyata adalah restoran. Sepi, tidak ada orang sama sekali ketika saya masuk. Tapi akhirnya seorang laki-laki keluar dan berdiri menyambut saya di meja kasir. Tanpa ba bi bu lagi, setelah mengucapkan permisi, saya langsung menjelaskan kalau saya kesasar, yang tentu saja ditanggapi dengan kebingungan dulu olehnya. Bila terjadi kendala bahasa, body language jadi senjata andalan, menjelaskan sambil menunjuk kertas rute bis dan brosur yang saya punya. Brosur saya jadi andalam juga sebenarnya, karena brosur itu full dalam bahasa Jepang. Jadi sampai sekarang pun saya tidak tahu nama dari onsen itu apa :p

Setelah kurang lebih sekitar 20 menit kami saling bingung mengerti satu sama lain, akhirnya pemilik restoran berusia sekitar 30 tahun an ini mengerti apa yang saya maksud, ingin menuju halte ‘Fuji-midorino-kyukamura’.  Akhirnya! Dia menunjuk ke depan, ke arah tiang yang ada dekat situ.

Mulai dari sini, saya semakin menyukai Jepang, karena orangnya yang super ramah dan mau membantu walau ada kendala bahasa. Laki-laki berbaju koki itu keluar dari balik meja kasir dan mengajak saya keluar. Tanpa mengambil jaket terlebih dahulu, walaupun cuaca super dingin, dia ingin menunjukan saya tiang yang dimaksud. Dengan tangan kosong, dia membersihkan salju yang menutupi papan. Ternyata di tiang itu terdapat papan jadwal jam berapa bis akan tiba di halte. Dengan bahasa tubuh dan berbicara dalam bahasa Jepang, dia menjelaskan kalau saya harus menunggu bis arah sebaliknya di sini. Dia memastikan juga kalau saya harus menunggu di seberang untuk kembali ke halte tujuan awal saya.

Melihat jadwal yang ada di papan halte, saya masih harus menunggu kurang lebih sekitar 30 menit sampai bis datang. Kali ini saya yang harus berbicara dengan bahasa tubuh dan tentu saja bicara dalam bahasa Inggris, apa diperbolehkan untuk menunggu dulu di dalam mengingat saya bisa lumayan beku menunggu bis 30 menit di suhu begini. Dia langsung mengerti apa yang saya maksud dan mempersilahkan untuk masuk ke dalam.

Diperbolehkan untuk menunggu tanpa memesan apa-apa saja saya sudah bersyukur sekali. Tapi keramahan laki-laki ini tidak berhenti sampai di situ. Dia menyalakan pemanas dan menyuruh saya untuk berdiri di dekat situ supaya tidak kedinginan. Tidak lama kemudian dia juga keluar membawakan saya segelas green tea hangat. Baik banget~~~ *kemudian baper.

IMG_20160311_105828
Pemandangan dari balik jendela restoran tempat kesasar

Setelah sekitar hampir 30 menit menunggu, saya memutuskan untuk keluar saja. Tentu saja karena takut bis yang diincar sudah lewat. Lebih baik menunggu sebentar daripada ketinggalan kan. Sebelum keluar, saya mengembalikan gelas kosong dari green tea tadi ke dapur. Tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih untuk bantuan si pemilik restoran. Semoga kebaikannya dibalas rejeki berlimpah ya, mas!

Keluar dari restoran, cukup lama juga saya menunggu bis datang. Mungkin ada sekitar 10 menit. Setelah agak lama menunggu, akhirnya bis datang dan saya harus memastikan tidak keterusan lagi. Walaupun tidak menangkap jelas ‘Fuji-midorino-kyukamura’, saya mengambil resiko untuk menekan tombol berhenti ketika ada kata Fuji disebutkan karena selain jaraknya sudah lumayan, jam sudah pas, sepertinya tidak ada halte lain yang memakai embel-embel Fuji diantara Akaike dan Fuji-midorino-kyukamura. Semoga kali ini tidak salah karena saya melihat ada bangunan cukup besar di seberang. Mungkin benar itu onsennya.

Sempat ragu juga apa benar ini onsennya. Ragu-ragu saya masuk melewati pintu kaca. Banyak orang duduk di lobby dan beberapa orang di resepsionis. Actually, i don’t like become center of attention in the middle of crowd, tapi hal ini tidak bisa dihindari juga ketika saya masuk. Well..saya terlihat berbeda, jadi wajar kalau banyak mata melihat ketika saya masuk *ke GR an ih!

Ternyata setelah bertanya dengan petugas resepsionis, gedung ini bukan onsen. Onsen ada di sebelah. Keluar dari situ, bingung lagi. Sebelahnya itu di sebelah mana? Karena tidak ada tanda-tanda bangunan lain di sebelah gedung ini. Tapi karena petugas tadi menunjuk ke sebelah kanan gedung, jadi saya mengikuti arahnya. Aspal + salju + sepatu converse = bukan kombinasi yang baik. Sepatu saya basah sejadi-jadinya menginjak salju sepanjang jalan menuju ke bangunan sebelah.

Setelah sekitar 10 menit berjalan, saya sempat ragu apa benar menuju arah yang benar, karena saya justru melihat lapangan bola. Tidak ada orang yang bisa ditanya. Akhirnya mengikuti insting saja karena saya melihat ada parkiran mobil di situ dan ada 1 bangunan kecil. Tidak ada niat membuka brosur juga untuk mengecek, siapa tahu di brosur itu ada tampak bangunan luar seperti apa untuk saya konfirmasi. Tapi masuk saja lah, kalau salah ya tanya lagi.

IMG_20160311_132126

Setelah masuk dan melepas alas kaki, saya menuju resepsionis dan langsung bertanya apa benar ini onsen. Ternyata benar gedung ini onsen yang ingin saya tuju. Fiuhhh…alhamdulillah bisa sampai juga. Onsen..here i come! Pengalaman di dalam onsennya disambung di posting berikutnya ya, sudah cukup panjang ini tulisannya *ditoyor.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s