Glimpse of Winter in Shirakawa

Gassho-zukuri style, begitulah bentuk rumah yang ada di Shirakawa-go, desa tradisional di Jepang yang masuk sebagai salah satu warisan budaya dunia UNESCO. Bentuk rumah yang unik di desa yang terletak di prefektur Gifu ini yaitu atap segitiga yang mereflesikan bentuk tangan yang sedang berdoa menjadi salah satu alasan mengapa Shirakawa menjadi tempat tujuan wisata turis yang berkunjung ke Jepang.

IMG_20160309_140431

Waktu yang banyak dipilih turis untuk berkunjung ke Shirakawa adalah saat musim dingin. Bagaimana tidak jika mayoritas foto yang digunakan untuk menarik turis adalah ketika Shirakawa diguyur salju sehingga meninggalkan salju tebal menutupi seluruh wilayahnya ditambah lampu-lampu yang menyala di malam hari semakin menambah kecantikan di foto.

Saya berkesempatan untuk mengunjungi Shirakawa di awal Maret, waktu di mana sebenarnya saya tidak bisa mengharapkan bisa melihat Shirakawa dalam kondisi tertutup salju tebal seperti di foto-foto wisata itu karena waktu yang disarankan untuk bisa menyaksikan pemandangan itu adalah di bulan Desember sampai akhir Februari. Tapi saya cukup beruntung karena di tengah kunjungan salju turun cukup deras. Paling tidak akhirnya saya bisa melihat salju turun di depan mata untuk pertama kalinya *ndeso*. Tour guide yang menemani selama perjalanan, Ayumi-san, mengatakan mungkin ini adalah salju terakhir di musim dingin tahun ini.

IMG_20160309_140159

IMG_20160309_144546

Walaupun terlihat tradisional, namun bisa terlihat pemandangan yang cukup kontras di Shirakawa. Rumah-rumah tradisional ini masih memiliki penghuni sehingga bisa terlihat walaupun berupa pedesaan tradisional, tapi di bagian depan rumah terparkir mobil modern. Beberapa rumah selain untuk tempat hunian juga disulap menjadi toko souvenir, tempat makan, ataupun terbuka untuk umum sehingga turis yang penasaran ingin tahu tampak dalam rumah bisa melihat bagaimana isi dari rumah gassho itu sebenarnya. Rumah yang terbuka dan terkenal untuk dikunjungi ada 3, yaitu Kanda House, Wada House, dan Nagase House. Tapi diantara 3 rumah, yang paling direkomendasikan adalah Kanda House karena dengan harga tiket masuk yang sama, yakni 300 yen per orang dewasa, Kanda House menyediakan complimentary drink berupa teh hangat yang tidak disajikan di 2 rumah lainnya.

IMG_20160309_150729

IMG_20160309_144715

IMG_20160309_145200

Sesuai dengan rekomendasi, saya memilih untuk masuk ke Kanda House. Rumah berlantai 4 ini juga memajang barang-barang yang dulu pernah digunakan oleh warga Shirakawa sehari-hari, seperti alat-alat pertanian. Atap yang cukup rendah dan tangga yang agak curam membuat kita harus berhati-hati karena atap yang rendah itu membuat kepala saya jadi korban, kepala terantuk kayu cukup kencang. Sayang semua tulisan dari barang yang dipajang hanya menggunakan bahasa Jepang. Yang menarik perhatian saya dari beberapa barang yang dipajang adalah rumah kucing. Buat saya itu tidak terlihat seperti kandang kucing karena barang berbentuk kotak itu terlihat kecil sekali. Atau jangan-jangan kucing Jepang jaman dulu memang berukuran mini?

Menurut info dari Ayumi-san, atap rumah di Shirakawa yang terbuat dari rumput-yang-saya-lupa-apa-nama-tanamannya itu saat ini diganti setiap 30 tahun sekali. Jangka waktu yang sangat lama karena awalnya saya pikir diganti setahun sekali dan setelah melihat dari dekat ternyata atapnya tebal sekali. Namun ternyata 30 tahun sekali itu sudah singkat karena sebelumnya atap itu justru diganti setiap 70 tahun sekali. Penggunaan pendingin dan pemanas elektronik menjadi alasan kenapa atap rumah tidak bertahan lama seperti jaman dulu. Asap dari pembakaran untuk pemanas dalam rumah di musim dingin lah yang menyebabkan atap rumput itu bertahan lama. Di Kanda House saya bisa melihat pemanas tradisional itu. Api, kayu, serta teko air yang permukaannya sudah hitam gosong berada di tengah ruangan seperti yang biasa saya lihat di film atau komik Jepang sehingga menjadikan rumah itu memang memiliki bau asap sedikit.

Dengan jumlah populasi yang tidak banyak, saat ini mayoritas income Shirakawa masuk dari pariwisata. Jaman dulu warga Shirakawa menghasilkan benang sutra sebagai komoditas, namun saat ini mereka sudah berhenti memproduksi dan bergantung kepada pendapatan dari pariwisata. Info dari Ayumi-san salah satu alasan kenapa Shirakawa sudah tidak memproduksi benang sutra karena Cina lebih mendominasi pasar. Beberapa rumah juga menyediakan akomodasi untuk turis jika ada yang ingin merasakan bagaimana kehidupan pedesaan Shirakawa.

IMG_20160309_151654

IMG_20160309_150324

Untuk menuju Shirakawa bisa menggunakan bis dari Takayama atau Kanazawa. Saya sendiri tidak memilih menggunakan bis umum dari Takayama karena harga yang ditawarkan di hostel saya menginap lebih murah dibandingkan dengan jalan sendiri dengan bis. Harga yang lebih murah, dilengkapi dengan tour guide sehingga ada hal yang bisa dipelajari, serta tidak perlu repot untuk menunggu bis ke viewing point sudah cukup menjadi alasan kenapa kali ini saya memilih menggunakan tur.

Jika menggunakan bis, harga yang dibayarkan untuk Takayama-Shirakawa pulang pergi (round trip) dengan menggunakan Nouhi Bus adalah 4420 yen. Disarankan untuk melakukan reservasi paling tidak sehari sebelum keberangkatan agar pasti mendapatkan kursi. Titik keberangkatan dari Takayama Bus Terminal yang lokasinya bersebelahan dengan stasiun JR Takayama. Untuk jadwal keberangkatan dan reservasi bisa dilihat di sini.

IMG_20160310_074755
Takayama Bus Terminal

Sementara tur yang saya gunakan dihandle oleh J-Hop Tour dengan harga 4,400 yen dan ada diskon 500 yen jika menginap di J-Hoppers Hostel. Dengan harga 3,900 yen sudah bisa duduk manis, saya pikir kenapa tidak? Turnya sendiri bisa memilih ingin pagi atau sore hari dengan durasi sekitar 4 jam sudah termasuk waktu perjalanan. Perjalanan dari Takayama menuju Shirakawa memakan waktu sekitar 1 jam. Waktu bebas untuk eksplorasi desa sendiri diberikan 2 jam. Untuk info lebih jelas bisa dicek di web J-Hop Tour.

IMG_20160309_152935

IMG_20160309_154958

Di awal Maret di mana salju tidak terlalu tebal saja melihat secara langsung Shirakawa sudah membuat saya terkesima. Saya jadi membayangkan bagaimana cantiknya desa ini dengan salju yang tebal seperti di foto yang banyak tersebar di internet. Atau di musim gugur dengan daun warna warni, mungkin Shirakawa juga cantik di musim semi dengan bunga sakuranya. I will visit this place again in different season, Amen for that!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s