A Present for Myself: 29 Days Europe Trip

Bukan rahasia umum lagi kalau benua Eropa menjadi tujuan impian bagi beberapa orang, dan saya termasuk ke dalam kelompok beberapa orang tersebut. Alasan Eropa menjadi tujuan impian saya sebenarnya sederhana, saya tumbuh besar di era berjayanya boyband Westlife asal Irlandia, Oasis dan Mr. Bean asal Inggris dan sempat kepincut dengan beberapa film Perancis. Pemandangan apik khas Eropa yang ditampilkan di film dan video yang saya tonton jaman remaja (kenapa kesannya tua banget sih?) membuat saya terus memupuk mimpi kalau suatu hari nanti bisa menginjakan kaki di benua Eropa untuk melihat langsung dengan mata kepala sendiri, bukan melalui layar tv atau komputer.

Di tahun 2015, mimpi yang saya simpan bertahun-tahun tersebut akhirnya mulai memperlihatkan titik terangnya. Saya mendapati kalau perusahaan tempat saya bekerja adalah penganut kepercayaan Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 79 ayat 2, yakni

Pekerja yang telah bekerja selama 6 tahun secara terus-menerus pada perusahaan yang sama berhak mendapatkan istirahat panjang selama 2 bulan dan dilaksanakan pada tahun ketujuh dan kedelapan masing-masing 1 bulan.

Rasanya tidak semua perusahaan mau membuka masalah cuti panjang ini dan karyawan biasanya juga agak malas membaca employee handbook yang dibagikan oleh HRD. Jadi kalau merasa sudah bekerja cukup lama di 1 perusahaan dan penganut jatah-cuti-12-hari-selama-1-tahun-itu-tidak-cukup seperti saya, ada baiknya konfirmasi ke bagian HRD untuk hal cuti panjang ini *penyebar racun cuti.

Dengan informasi kalau saya bisa cuti panjang selama 1 bulan penuh di tahun kerja ketujuh, berarti 1 kendala terselesaikan. Saya memang berniat untuk tidak hanya menghabiskan 1-2 minggu liburan di Eropa dengan alasan tiket dan visa yang mahal, rasanya agak rugi kalau hanya menghabiskan waktu sebentar saja di sana. Setelah menghitung tabungan dan merasa cukup untuk hidup ngirit selama 1 bulan di Eropa, jadilah selama beberapa minggu mulai menunggu maskapai mana yang akan buka harga tiket promo karena di tengah tahun 2015 kemarin sempat baper lihat Qatar buka harga Rp. 5 juta an sudah bisa sampai Eropa tapi tidak bisa diambil karena selain masih terkendala jatah cuti, promo itu juga hanya sampai travel period Juni 2016, padahal saya berencana untuk pergi di musim gugur tahun 2016, yakni diantara bulan September sampai November.

Masuk Januari 2016, belum ada niat untuk membeli tiket pesawat karena belum ada info tiket pesawat murah *anaknya murahan. Tapi dimana ada niat, di situ pasti ada jalan. Berawal dari keisengan buka twitter, ada 1 tweet muncul di timeline yang memberikan info kalau keberangkatan dari Kuala Lumpur dengan Qatar harganya lebih murah daripada dari Jakarta, lengkap dengan screen capturenya. Berbekal dari situ, jempol saya langsung panas untuk cek ke web Skyscanner. Ternyata harga itu memang bukan khayalan belaka. Harga yang ditawarkan maskapai timur tengah tersebut memang paling murah saat itu. Memang tidak semurah sebelumnya yang sampai dipukul ke harga Rp. 5 juta, tapi keberangkatan dari Kuala Lumpur dibandrol di harga sekitar Rp. 6 – 7 juta an. Dengan membeli tiket terpisah untuk ke Kuala Lumpur pun ini masih termasuk murah. Lagipula saya berdomisili di Jogja, jadi pilihan yang cocok untuk mengambil keberangkatan dari Kuala Lumpur. Sempat bingung memilih berangkat di bulan apa, tapi akhirnya mantap memilih Oktober 2016. Walaupun bulan itu tidak memiliki 1 pun tanggal berwarna merah di weekdays, toh tidak masalah juga sebenarnya ada atau tidak tanggal merah saya tetap dapat jatah cuti sebulan *ditimpuk. Oktober menjadi pilihan akhir because i want to celebrate my birthday in Europe 🙂 Tiket keberangkatan ke London – Heathrow di tanggal 1 Oktober dan kembali ke Kuala Lumpur dari Paris di tanggal 30 Oktober 2016 akhirnya saya beli (dengan cara mencicil).

img_20161024_144505-01

img_0049

Tiket pesawat sudah di tangan, ijin cuti dari kantor pun sudah tidak ada masalah, berarti masuk ke tahap persiapan sebelum berangkat.

A. Itinerary

Itinerary menjadi hal pertama yang harus dikerjakan karena itinerary menentukan di negara mana harus apply visa nantinya. Sebenarnya saya sendiri bingung kenapa bisa memutuskan untuk mengambil London sebagai kota pertama dan Paris sebagai kota terakhir. Sebelum membeli tiket saya justru belum tahu negara dan kota mana saja yang akan saya kunjungi. Beberapa negara bisa dimasuki dengan senjata 1 visa itu sangat menggoda untuk dikunjungi semuanya. Mulanya saya ingin menjelajah sampai ke wilayah Skandinavia karena penasaran dengan Denmark, negara yang dinobatkan sebagai negara dengan warga paling bahagia sedunia itu bentuknya seperti apa. Polandia juga sempat masuk ke daftar negara yang ingin saya kunjungi karena penasaran dengan camp Auschwitz.

Setelah bertapa dan menghitung waktu serta biaya, saya juga harus tetap realistis, don’t be greedy, dan jangan sampai liburan ini justru tidak saya nikmati karena waktu yang dihabiskan di setiap kota terlalu sedikit dan cenderung terburu-buru, saya akhirnya memutuskan untuk menghabiskan waktu lebih lama di Inggris mengingat Inggris memiliki visa sendiri jadi saya pikir sedikit rugi kalau hanya dipakai untuk di London saja. Setelah coret sana sini, akhirnya rute ini yang saya pilih di solo trip panjang pertama saya ini: London – Edinburgh – York – Manchester – Bath – London – Brussels – Amsterdam – Cologne – Praha – Vienna – Munich – Verona – Paris.

untitled

Bisa dilihat kalau London muncul 2x di rute yang saya ambil. Ini sempat jadi salah 1 hal yang disesalkan akibat belum ada itinerary kasar sebelum membeli tiket. Karena mulanya di Inggris saya hanya ingin mampir ke London saja. Tapi ternyata Scotland cukup menggoda untuk dijamah. Kalau sebelum membeli tiket saya sudah sempat melirik ke Edinburgh, tentu saja tidak akan cerita rute dari selatan ke utara lalu kembali lagi selatan.

Kalau ada yang bertanya kenapa harus sampai menjamah Praha yang lumayan jauh itu? Jujur sejak awal saya tidak pernah mau mencoret Praha dari daftar kota yang saya kunjungi. Banyak info yang mengatakan kalau Praha itu cantik luar biasa. Tapi akibat dari memasukan Eropa timur ke itinerary, otomatis saya harus mengorbankan diri untuk tidak terlalu mengeksplor lebih dalam di 1 negara, seperti di Belanda saya hanya main ke Kinderdijk, tidak sampai ke Rotterdam. Tapi setelah melihat langsung Eropa timur, saya juga tidak menyesal memasukannya ke dalam itinerary karena akhirnya setelah trip ini saya justru lebih tertarik untuk eksplor Eropa timur dibandingkan barat jika diberi kesempatan untuk main ke Eropa lagi. Boleh dong dapet amin nya 🙂 Keputusan untuk memilih mampir ke Italia dibandingkan Swiss pun sebenarnya karena alasan yang sangat sederhana: i want to eat spaghetty in Italy, that’s it! *dilempar tomat.

img_0821
img-20161026-wa0014

Kota di Italia yang sebenarnya masuk dalam daftar pertama kali adalah Venezia. Tapi hanya karena hal receh, yaitu akomodasi di Venezia yang mahal, saya berpikir ulang untuk ke sana dan memutar otak kota mana yang dekat dari Munich dan Paris, tapi juga menarik untuk dilihat. Jelas Roma tidak mungkin saya masukan ke dalam opsi karena ada jauh di bagian selatan, padahal sebenarnya saya mau banget ke Vatikan. Setelah googling sana sini dan melihat kota mana yang tidak ribet untuk overnight train ke Paris, terpilihlah Verona. Kota Romeo dan Juliet, well…agak ngenes sebenarnya karena kota Romeo dan Juliet yang harusnya cocok jadi honeymoon destination, tapi saya malah ngetrip sendirian 😦

B. Visa

Setelah selesai menyusun itinerary dimulailah tahap pengajuan visa. Sebagai pemegang paspor hijau Indonesia, untuk trip kali ini dibutuhkan 2 visa, yaitu visa Inggris dan Schengen. Drama pengajuan visa sudah dipost sebelumnya, bahkan sebelum saya berangkat. Silahkan main ke link ini untuk visa Inggris dan di sini untuk visa Schengen.

C. Booking Tiket Transportasi Antar Kota / Negara

Setelah visa sudah di tangan, barulah meluncur untuk melakukan pembelian tiket transportasi antar kota / negara dan salah satu biaya terbesar untuk trip keliling Eropa jelas ada di bagian ini. Jadi memang bukan mitos kalau untuk menghemat pengeluaran adalah jangan terlalu sering berpindah-pindah kota atau negara. Saya sempat bingung memilih antara menggunakan kereta atau bis untuk pindah kota / negara ini. Tapi setelah melihat kalau naik kereta lebih terasa nyaman dari segi jadwal dan lokasi stasiun yang berada di tengah kota, akhirnya memilih untuk lebih banyak menggunakan kereta. Walau membeli jauh-jauh hari untuk meminimalisir pengeluaran, tidak bisa dipungkiri juga kalau harga tiket bis tetap lebih murah dibandingkan kereta. Jadi saya tetap mengkombinasikan menggunakan transportasi kereta dan juga bis. Saya juga sempat menjajal menaiki kapal ferry dari Inggris menuju daratan Eropa karena saya menggunakan bis dari London menuju Brussels.

img_20161014_010901
Kalau saya bilang ini adalah interior kapal ferry dari Inggris menuju Belgia, percaya ga?

Untuk wilayah Eropa daratan, saya banyak membaca info tentang Eurail Pass dan pass ini sempat masuk dalam opsi saya. Tapi setelah dibandingkan dengan perhitungan jika membeli tiket secara eceran, ternyata harganya justru jauh lebih murah dengan cara membeli eceran. Jika menggunakan Eurail Pass, paling tidak saya harus memilih Global pass untuk adult yang bisa dipakai di lebih dari 5 negara untuk 7 hari dengan harga EUR 559 tapi kereta malam yang saya gunakan dari Verona ke Paris, Thello, ternyata tidak tercover oleh pass ini. Padahal jika membeli secara eceran untuk kereta kelas 2, saya hanya mengeluarkan biaya EUR 327.7 yang sudah termasuk biaya reservasi dan kereta malam Verona – Paris.

Perlu tidaknya membeli Eurail Pass ini sebenarnya tergantung dari itinerary yang kita susun. Jika suka berpindah-pindah kota, maka bisa jadi pass ini cocok untuk dibeli karena perhitungannya berdasarkan hari. Tidak masalah jika dalam waktu 24 jam akan menaiki lebih dari 1 kereta. Dalam membandingkan antara membeli Eurail Pass atau eceran yang perlu diperhatikan juga adalah biaya reservasi. Beberapa kereta seperti kereta cepat TGV atau Thallys diperlukan reservasi yang biayanya dibayar di luar Eurail Pass. Melihat apakah kereta yang akan dipilih memerlukan reservasi atau tidak bisa dicek di Eurail Timetable.

img_20161021_131227
City Night Line Jerman dan RailJet Republik Ceko

Mungkin alasan kenapa harga pass ini mahal karena jika menggunakan Eurail Pass maka gerbong yang kita dapatkan adalah gerbong kelas 1. Tapi otomatis mendapat gerbong kelas 1 ini hanya berlaku untuk tiket adult, yaitu untuk orang dewasa berumur 26 tahun ke atas. Untuk umur 12 sampai 25 tahun bisa memilih youth pass di mana ada pilihan ingin mengambil harga kelas 1 atau kelas 2 yang tentu memiliki harga lebih murah. Jadi intinya, sebisa mungkin eksplorlah Eropa di saat umur masih di bawah 26 tahun, karena memang selain masalah harga pass yang bisa lebih murah ini, beberapa tempat wisata di Eropa juga menawarkan harga diskon untuk orang-orang yang masih muda. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Eurail Pass bisa dibaca di website Eurail Pass.

Untuk Inggris sendiri, mereka juga memiliki pass seperti layaknya Eurail Pass, yaitu Britrail Pass. Tapi setelah berdiskusi panjang dengan web National Rail dan kalkulator, lagi-lagi untuk itinerary yang saya susun membeli secara eceran jatuhnya lebih murah dibandingkan dengan membeli pass. Namun berbeda dengan Eurail Pass, jika menggunakan Britrail Pass, Inggris dengan baik hati tidak membebankan biaya tambahan untuk reservasi tempat duduk. Informasi lebih lengkap mengenai Britrail Pass bisa dicek di website Britrail.

Hal yang perlu saya ingatkan di sini adalah saya membeli tiket 1 bulan sebelum keberangkatan sehingga perhitungan tiket bisa lebih murah daripada dengan membeli pass. Jika dibeli 2 bulan sebelumnya mungkin bisa lebih murah lagi. Namun apa daya, 2 visa saya baru selesai diproses 1 bulan sebelum keberangkatan. Ya terima nasib kalau beberapa tiket harganya harus naik dari perhitungan ketika riset.

Untuk bagaimana cara membeli tiket transportasi antar kota / negara secara eceran dan sharing pengalaman menggunakan transportasi di Eropa akan saya bahas di post terpisah karena kalau dibahas sekalian di sini, post ini akan jadi panjang. Ingatkan saja supaya saya tidak lupa *ditimpuk

D. Booking Penginapan

Dengan durasi perjalanan yang hampir 1 bulan dan mampir ke beberapa kota, cukup kewalahan juga untuk memilih akomodasi, kewalahan karena sakit kepala lihat harga akomodasi di sana maksudnya. Saya yang pecinta free breakfast ini pening lihat harga akomodasi yang mahal di Eropa tapi mayoritas tanpa free breakfast.

Saya menetapkan beberapa hal yang harus diperhatikan untuk pemilihan akomodasi. Kriteria utama adalah lokasi. Hostel yang saya pilih adalah yang memiliki lokasi dekat dengan stasiun central karena saya banyak pindah kota dengan menggunakan kereta. Kalaupun tidak dekat dengan stasiun central, paling tidak dekat dengan stasiun metro / subway dan juga lokasi wisata yang akan dikunjungi. Jangan lupa juga untuk mengecek lokasi di Google Street View untuk melihat apakah lokasinya terlihat aman atau tidak karena terkadang area stasiun central perlu diwaspadai karena tempatnya yang terlalu ramai sehingga rawan terjadi pencopetan.

Kriteria lain yang saya perhatikan adalah kebersihan dan juga harga. Masalah kebersihan bisa dilihat dari review yang diberikan. Sementara untuk harga, pintar-pintar saja membandingkan antara 1 hostel dengan lainnya. Lihat sisi positif dan negatifnya. Misalnya, harga memang murah, tapi kalau lokasinya jauh dari lokasi wisata yang ingin dikunjungi maka jatuhnya akan mahal juga. Hal lain yang juga saya perhatikan adalah colokan listrik. Saya merasa nyaman jika hostel menyediakan colokan listrik di setiap tempat tidur. Tapi ada beberapa hostel di Eropa yang tidak menyediakan fasilitas sepele ini.

Selama 29 hari di Eropa saya menginap di 11 hostel dan 1 Airbnb. Untuk hostel mayoritas saya melakukan proses booking di web booking.com karena saya memang sudah memilih hostel sejak proses pengurusan visa. Fasilitas free cancellation yang ditawarkan sangat membantu jika terjadi sesuatu dengan visa saya *amit2. Tapi ada beberapa hostel yang saya pindah booking dengan menggunakan hostelworld.com karena harga yang ditawarkan lebih murah. Untuk Verona saya menggunakan Airbnb karena di sana tidak ada hostel dengan sistem dormitory. Bed and breakfast di sana semuanya menggunakan private room. Kebetulan saya menemukan apartemen di Airbnb yang lokasinya cukup strategis, tidak terlalu jauh dari stasiun dan akses ke city center pun mudah, harganya juga bersahabat serta host dengan review yang bagus. Berikut adalah hostel yang saya pilih selama di Eropa:

  • Edinburgh: City Stay Hostel (GBP 15 / malam untuk 8-bed female dormitory room)
  • York: Safestay (GBP 20 / malam untuk 12-bed mixed dormitory room) – have breakfast with a fee
  • Manchester: YHA Manchester (GBP 27 / malam untuk 4-bed female dormitory room) – have breakfast with a fee
  • Bath: St. Christopher’s Inn Bath (GBP 16.69 / malam untuk 12-bed mixed dormitory room) – have breakfast with a fee kecuali booking langsung di websitenya
  • London: St. Christopher’s Inn Oasis – London Bridge (GBP 18.9 / malam untuk 14-bed female dormitory room) – have breakfast with a fee kecuali booking langsung di websitenya
  • Brussels: Brxxl 5 City Centre Hostel (EUR 20 / malam untuk 4-bed female dormitory room)
  • Amsterdam: Shelter City (EUR 27.5 / malam untuk 16-bed female dormitory room) – free breakfast
  • Praha: Equity Point Prague (CZK 375 / malam untuk 8-bed female dormitory room) – free breakfast
  • Vienna: Wombat’s City Hostels Vienna at the Naschmarkt (EUR 19 / malam untuk 8-bed mixed dormitory room) – saya diupgrade ke 4-bed female dormitory room dengan harga yang sama, don’t know why. Mungkin hanya rejeki anak cakep :p
  • Munich: Wombat’s City Hostel (EUR 19 / malam untuk 8-bed mixed dormitory room)
  • Verona: Airbnb (USD 39 / malam untuk 1 kamar kapasitas 2 orang) – including breakfast
  • Paris: Generator Paris (EUR 31.7 / malam untuk 8-bed mixed dormitory room, harga belum termasuk city tax yang dibayar ketika check in)

Review dari masing-masing hostel akan saya bahas di post terpisah.

E. Uang

Untuk trip Eropa ini saya harus memikirkan 3 mata uang berbeda, yaitu GBP, EUR dan CZK. Saya memilih untuk tidak menukar GBP dan EUR, apalagi CZK di money changer Indonesia dalam jumlah yang terlalu besar. Lebih baik mengambil di ATM di Eropa kalau uang cash yang saya bawa habis di tengah perjalanan. Saran dari saya, jangan menukar uang di money changer karena komisi yang diambil oleh mereka cukup lumayan. Saya menukar uang Euro saya ke Krona Ceko yang berakhir dengan harus merelakan CZK 268 diambil sebagai komisi. Lebih baik mengambil di ATM walaupun akan ada biaya admin yang timbul. Tapi biaya admin bank Indonesia masih lebih kecil daripada komisi money changer.

Tips mengambil uang di ATM adalah jangan mengambil dalam jumlah sekepret-sekepret alias sedikit-sedikit. Jika merasa masih membutuhkan dana banyak, ambilah sejumlah tarikan maksimal yang bisa dilakukan per hari. Karena biaya admin dikenakan untuk 1 kali tarikan. Rugi bandar nanti kalau misalnya tarik tunai EUR 500 padahal masih membutuhkan EUR 1000 dan tarikan maksimal per hari yang bisa dilakukan adalah EUR 1,500. Dengan catatan, tabungan memang cukup untuk bisa ditarik ya.

F. Download Peta Offline

Ini adalah senjata andalan saya selama di Eropa. Aplikasi peta offline ini amat sangat membantu saya menuju tempat wisata dan juga pulang ke hostel. Di red light district Amsterdam misalnya, jalan di sana terlihat njelimet, belum lagi bentuk bangunan yang sama semua. Kalau saya tidak mengandalkan peta offline ini, bisa-bisa saya tidak bisa kembali ke hostel.

Peta offline yang saya pakai adalah Maps.Me. Sebagai fakir wifi sejati tidak mungkin mengandalkan peta berbasis internet. Peta offline ini memang tidak 100% offline, peta tujuan didownload terlebih dahulu sebelum berangkat. Nilai plus untuk aplikasi ini adalah lokasi kita berdiri bisa berfungsi secara offline. Walaupun kelemahannya juga terletak di bagian tersebut, yaitu ketika dalam posisi offline terkadang butuh waktu yang agak lama untuk menunjukan titik lokasi kita berdiri.

Biaya

Menghitung berapa biaya yang dihabiskan selama liburan sebenarnya adalah hal yang kurang saya sukai karena takut shock dan jadi berpikir ratusan kali untuk trip selanjutnya. Tapi untuk Eropa ini biaya benar-benar saya catat karena selain termasuk negara dengan biaya hidup yang mahal, trip yang saya lakukan pun dalam jangka waktu yang lama. Kalau tidak dikontrol, tabungan bisa jebol.

Biaya untuk trip yang saya lakukan selama 29 hari di tanggal 2 – 30 Oktober 2016 di luar biaya untuk tiket pesawat, dengan perkiraan kurs yang saya bulatkan saja agar mudah, 1 EUR = Rp. 16,000 dan 1 GBP = 18,000 adalah Rp. 33,626,855 dengan rincian sebagai berikut:

untitled-2

Bisa dilihat kalau pemakan biaya terbesar adalah akomodasi dan transportasi antar kota. Kalau merasa tidak bisa mengurangi biaya untuk akomodasi dan masih tetap ingin banyak pindah kota, berikut adalah hal yang mungkin bisa dilakukan untuk meminimalisir biaya:

  • Pilih dengan bijak tempat wisata mana yang ingin dikunjungi. Memasuki semua museum dan tempat wisata di Eropa itu bisa menguras biaya cukup tinggi. Tempat wisata di Eropa paling tidak mematok biaya masuk di atas EUR 5. Jika memiliki waktu yang tidak banyak tapi ingin menjelajah kota serta mengetahui cerita dibaliknya, free walking tour bisa menjadi pilihan. Tur yang dilakukan dengan jalan kaki dengan rata-rata waktu tempuh selama 2 jam ini sebenarnya tidak 100% gratis seperti namanya. Tur semacam ini adalah tur berbasis tip. Jadi pada saat tur berakhir kita diperbolehkan membayar sesuka hati, sesuai dengan penilaian kita terhadap si pemandu. Kalau tidak suka sama sekali, nyelonong tanpa membayar pun tidak dosa. Tapi ada juga free walking tour yang memang benar-benar gratis, tidak dipungut biaya sepeser pun, yang sempat saya coba di Bath, yaitu Mayor of Bath’s Corps of Honorary Guides.
  • Kurangi pembelian souvenir atau oleh-oleh. Karena selain makan biaya, souvenir ini juga membutuhkan space dan memiliki andil menambah timbangan koper. Tidak semua barang harus dibeli kok karena esensi dalam melakukan liburan adalah collect memories, not things. Menurut saya sih orang Indonesia itu baik banget, semua orang dibawakan oleh-oleh, bahkan sampai orang yang tidak terlalu dekat sekali pun dibawakan oleh-oleh. Budaya minta oleh-oleh itu sebenarnya jangan dipelihara atau kalaupun tidak bisa dihilangkan, paling tidak dikurangi. Dan juga bagi penerima oleh-oleh, cobalah untuk lebih menghargai oleh-oleh yang diberikan. Jangan hanya karena diberikan oleh-oleh 1 gantungan kunci lantas membalas dengan kalimat, ‘kok cuma gantungan kunci sih?’. Well…coba dipikirkan walau hanya 1 gantungan kunci, orang yang memberikan oleh-oleh itu berarti memikirkan kita ketika dia sedang berlibur di sana. Gantungan kunci juga dibeli dengan uang dan membutuhkan tempat di koper yang sudah berat itu. Saya rasa orang yang tidak menghargai oleh-oleh itu adalah orang yang kurang piknik *kok malah curhat? :p
img_20161021_164044
Magnet yang harganya ngajak berantem di Vienna
  • Sering jalan kaki. Mayoritas kota di Eropa berukuran kecil. Semua tempat bisa dicapai dengan jalan kaki. Kalau melihat jaraknya hanya beda 1 stasiun subway, lebih baik jalan kaki. Perlu diingat kalau biaya transportasi di Eropa itu cukup mahal, jika dibandingkan dengan negara tercinta Indonesia ini ya.
  • Jangan terlalu sering makan di restoran atau ngopi-ngopi di cafe. Untuk masalah makanan, saya termasuk yang tidak rewel. Selama tidak mengandung babi dan alkohol sih saya telan. Selama di Eropa saya lebih banyak makan makanan jadi ala supermarket yang tinggal dipanaskan di microwave. Harga untuk ready meal ala supermarket berkisar EUR 5 – 6. Bandingkan dengan makan di restoran yang bisa menghabiskan EUR 10 – 16 sekali makan. Tapi restoran di sini maksudnya bukan restoran fast food seperti McDonald atau Burger King ya, itu beda cerita.

Semoga post panjang ini bisa bermanfaat bagi yang mau jalan-jalan ke Eropa. Yang perlu diingat, kemana pun tujuannya, jika traveling tanpa menggunakan jasa tur bijaklah dalam membawa barang bawaan karena koper yang terlalu berat akan menyusahkan diri sendiri. Eropa itu keras, nak! Jarak untuk pindah line di metro Paris itu jauh lho, dan mayoritas tidak ada lift. Begitu pula dengan hostel, tidak semua hostel memiliki lift. Yakin mau gotong-gotong koper di tangga?

So…where’s your next destination? Kalau saya sih masih mau eksplor Eropa lagi kalau suatu hari diberikan rejeki untuk bisa ke sana lagi *tolong diaminin doonggg…:D

Advertisements

3 thoughts on “A Present for Myself: 29 Days Europe Trip

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s