Luka Lama itu Bernama Ketinggalan Pesawat

Drama ketinggalan pesawat yang akan saya buka di sini sebenarnya cerita lama, tapi karena saya termasuk ke dalam jenis manusia yang move on-nggak-move on-nggak, jadi ibarat luka di kulit yang sebenarnya sudah kering tapi saya kopek terus dan malah nggak sembuh-sembuh. Jadi bisa tiba-tiba teringat kejadian yang kurang enak terus menggumam ‘kok bisa sih gue kayak gitu?’, terus pura-pura lupa tapi nanti begitu lagi. Begitu terus ra uwis-uwis.

Ketinggalan pesawat sebenarnya adalah aib memalukan yang berat untuk dibuka. Tapi demi berbagi pengalaman supaya kamu, anda, saudara sekalian yang masih membaca sampai kalimat ini tidak masuk ke lubang hitam yang sama, jadi saya coba berbagi pengalaman tentang betapa nggak enaknya, terutama bagi saldo tabungan, kalau ketinggalan pesawat apalagi untuk rute internasional. Bayangkan kalau ketinggalan pesawat rute internasional durasi 16 jam dan posisi kita ketika berada di Eropa, dengan visa turis yang durasi tinggalnya ngepas. Yap! Been there done that. Kalau buat saya yang masuk dalam jajaran buruh korporat-yang-levelnya-nggak-tinggi-tinggi-amat sih rasanya pedih.

Sejarah ketinggalan pesawat yang pernah saya alami sampai detik ini, amit-amit ya kalau kejadian lagi, ada 3. Satu untuk rute domestik, dua untuk rute internasional. Kejadian pertama kali ketinggalan pesawat justru tidak terlalu menyakitkan hati, walau sempat shock karena sulit menerima kenyataan kok-bisa-ya-kena-kasus-ketinggalan-pesawat. Untuk yang pertama saya masih dengan mudah move on karena 1). masih di negara sendiri ; 2). rute domestik ; 3). perjalanan itu dalam rangka dinas kantor.  Walau atasan sempat bertanya kenapa sampai bisa ketinggalan, untungnya saya masih dianugrahi atasan yang baik hati dan tidak pernah memarahi dengan cara membentak-yang-bikin-sakit-hati. Drama itu sebenarnya murni terjadi karena kesalahan saya yang tidak jeli membaca jam keberangkatan. Waktu itu jadwal pesawat berangkat jam 5:25, tapi saya mengira membeli untuk keberangkatan jam 5:50. Dulu Air Asia rute Jakarta – Jogja masih memiliki 2 jadwal keberangkatan yang jamnya berdekatan. Karena kesalahan itu alhasil saya terlambat berangkat 10 menit dari rumah yang berakibat pada ditolaknya saya masuk ke ruang tunggu oleh petugas Air Asia karena flight saya sudah melewati habis waktu sejak final call. Ngenes memang, karena sebenarnya pesawat belum berangkat. Tapi ini kan naik pesawat ya, bukan bis yang bisa distop sembarangan kalau kita telat.

Pengalaman ketinggalan pesawat yang kedua lumayan menyakitkan karena itu rute internasional, walau level sakitnya tidak parah. Saya harus rela ditinggal pesawat untuk rute Jakarta – Ho Chi Minh. Kenapa saya masih bisa move on dari kasus kedua ini? Karena harga untuk membeli tiket barunya tidak semahal tiket yang sudah hangus dan juga saya masih berada di Jakarta jadi tidak harus ngoyo beli tiket untuk keberangkatan di hari yang sama. Saya masih bisa beli tiket untuk keberangkatan besok paginya walaupun memang harus mengorbankan mengurangi jadwal liburan 1 hari di Ho Chi Minh.

Kok bisa ketinggalan? Padahal sudah membaca jadwal keberangkatan pesawat dengan baik dan benar lho. Tapi ternyata saya tidak memprediksi kalau saat itu Jakarta yang menjadi lokasi KTT Asia Afrika 2015 kemarin berakibat pada jalanan yang macet sehingga perjalanan dari rumah di Bekasi ke Soekarno-Hatta yang biasanya ditempuh selama maksimal 1.5 jam jadi molor sampai 2 jam lebih. Alhasil saya sampai di counter check in 5 menit sebelum jadwal pesawat berangkat. Berangkat lho ya, bukan boarding. Entah karena ngeyel atau apa, waktu itu saya masih mencoba perutungan bertanya ke petugas check in apa masih diperbolehkan. Sudah tahu sih jawabannya pasti nggak bisa, sebuah keajaiban kalau sampai petugas bilang masih boleh masuk. Endingnya masih untung hanya diberi jawaban “ini sudah jam berapa? Ya nggak bisa lah, mbak”, bukan “lo kira naik metro mini?” dengan mata melotot.

194_0004

Pengalaman ketinggalan pesawat yang ketiga dan semoga yang terakhir, adalah pengalaman terpahit selama histori travelling saya, yaitu ketinggalan pesawat di Paris dan itu adalah pesawat yang seharusnya membawa saya kembali ke Asia Tenggara. Pertanyaan yang diajukan oleh beberapa orang yang sudah saya ceritakan, ‘Kok bisa?!’. Ya tentu saja bisa, akibat dari keteledoran sendiri dan sikap acuh tak acuh petugas counter Air France. Let me tell you the story then.

Di hari kepulangan sampai dengan saat berada di kereta menuju bandara Charles de Gaulle semuanya berjalan dengan lancar. Dalam catatan yang saya pegang, jadwal pesawat berangkat jam 17:00 dan saya menjadwalkan maksimal jam 13:30 sudah meluncur ke bandara dari hostel yang berada di area Colonel Fabien. Dengan memilih menggunakan kereta RER dibandingkan bis saya selamat menginjakkan kaki di terminal 1 Charles de Gaulle tepat pada  waktunya yaitu jam 15:00, 2 jam sebelum jadwal keberangkatan. Tapi mimpi buruk pun dimulai pada saat saya mengecek monitor yang niat awalnya untuk mengecek check in untuk penerbangan saya dilakukan di counter mana. Tapi mata saya justru terbelalak melihat nomor penerbangan saya statusnya bukan lagi check in, tapi sudah boarding! Berulang kali saya mencoba meyakinkan diri bahwa itu benar nomor penerbangan saya atau bukan. Melihat nomor penerbangan yang sama persis statusnya sudah boarding saya lari ke area check in dan mendapati tidak ada petugas check in sama sekali di sana. Saya menuju ke gate tempat khusus penumpang tapi saya tidak diperbolehkan masuk oleh petugas. Ya tentu saja tidak diperbolehkan masuk karena selain belum memiliki boarding pass, saya masih membawa koper besar. Tapi karena saya panik jadi tidak memperhatikan kalau area itu hanya khusus untuk penumpang yang sudah memiliki boarding pass.

Petugas yang ada di gate mengarahkan saya untuk bertanya ke petugas yang ada di counter Air France karena penerbangan Qatar bisa ditanyakan di situ. Saat itu saya bertanya apakah benar pesawat dengan nomor sekian sekian memang sudah berangkat atau ada kesalahan. Saya sudah menyebutkan nomor penerbangan dan mengeluarkan e-ticket yang sudah diprint dari rumah dan mencoba menunjukkannya kepada si mbak petugas tapi tidak dilirik sama sekali, kemudian jawaban yang dia berikan adalah, “your flight will departed on 8pm and check in counter will open on 3pm. It’s last flight”. Merasa tidak yakin karena bagaimana mungkin 1 nomor penerbangan memiliki 2 jadwal. Kemudian saya bertanya lagi, “So there’ll be 2 different flights with same number?” dan saya sangat yakin melihat dia mengangguk. Sudah merasa ‘tenang’ karena ini berarti saya tidak jadi ketinggalan pesawat, saya menggeret koper dan mencari tempat duduk.

Merasa ada yang tidak beres, saya mencoba untuk mengecek email konfirmasi yang pernah dikirim oleh Qatar 1 bulan sebelumnya, pada saat saya berangkat. Email hanya satu kali dikirimkan oleh pihak Qatar pada saat penerbangan berangkat dan tidak ada email apapun lagi setelahnya. Pada saat email itu saya terima, yang saya baca hanya bagian untuk jadwal pesawat untuk berangkat dan jadwal pulang tidak saya baca karena tidak pernah ada email untuk perubahan jadwal jadi saya berpatokan pada e-ticket dan yakin datanya akan sama antara email dengan e-ticket. Tapi karena ketidaktelitian tersebut menghasilkan betapa kagetnya saya mendapati ternyata di email yang dikirimkan tersebut jadwal penerbangan saya berbeda dari e-ticket yang saya terima ketika membeli tiket! Jam yang tertera di email adalah 15:15, bukan 17:00! Sumpah serapah dalam bahasa Indonesia saya keluarkan saat itu juga, tidak perduli mungkin ada orang yang mengerti bahasa yang saya ucapkan.

Saya segera kembali menuju counter Air France dan bertanya kepada petugas yang sama. Seakan tidak mendengarkan nomor penerbangan yang saya sebutkan, jawaban yang diberikan tetap “check in time for your flight will started on 3pm”. Karena sedikit emosi saya meminta dia untuk melihat tiket yang saya sodorkan dan tersadar nomor penerbangan yang tertera di tiket saya berbeda dengan last flight yang dia maksud. Nomor penerbangan saya adalah 40 sementara penerbangan yang dia maksud adalah 41. Dan yang membuat saya emosi adalah jawaban yang diberikan kemudian, “you said yes when i said the flight number is 41” yang saya balas dengan “No! You didn’t mention about flight number. I already mentioned my flight number before” dengan nada emosi yang tertahan. Ketika saya mengajukan pertanyaan “Why Qatar didn’t send any email about the changes?”, dia hanya mengangkat bahu. Baru kali ini saya ketemu bule yang bawaannya minta dipites.

Tidak ada kata maaf, dia bangkit dari tempat duduk dan berjalan ke komputer yang ada di sisi lain counter sambil berkata “i need to change your flight then”. And guess what? What she meant with change is i need to buy brand new ticket. Shoot! Another shoot from my mouth when she mention price that i need to pay for it. Harga yang harus saya bayar untuk 1 way ticket itu lebih mahal dari return ticket yang dibeli sebelumnya. Tidak ada pilihan lain karena saya coba bandingkan dengan membeli lewat web pun harganya sama saja, ditambah dengan saya mau bayar pakai apa. Limit kartu kredit tidak mencapai harga yang harus saya bayar. Alhasil bayar cash pun harus dilakukan. The moment when i need to withdraw that much of money from ATM…kraaayyyy…

Keluarga ada yang menyarankan untuk extend dulu di Paris, mungkin saja harga tiket bisa lebih murah. Saya sih mau saja kalau extend 1-2 hari, tapi tidak menjamin tiket lebih murah juga kalau hanya beda 1-2 hari. Tiket mungkin lebih murah, tapi itu tidak akan sebanding karena ada biaya yang dikeluarkan lagi untuk penginapan dan makan. Dan tidak mungkin juga saya extend karena harus segera kembali kerja setelah cuti besar selama 1 bulan.

IMG_1298
Pengalaman ketinggalan pesawat itu begitu suram, sesuram Catacombs

Setelah sampai di Indonesia saya segera mengirimkan email kepada pihak Qatar. Maksud dari mengirimkan email tersebut bukan untuk meminta kompensasi karena saya juga menyadari pihak Qatar tidak akan memberikan itu karena sebelumnya sudah mengirimkan email untuk mengevaluasi kembali jadwal penerbangan dan ada faktor keteledoran pribadi juga. Namun saya hanya meminta pihak Qatar untuk juga bisa mengevalusi diri agar ke depannya bisa memberikan warning kepada penumpang jika ada perubahan jadwal dari jadwal sebelumnya sehingga penumpang lebih aware. Saya ingat Air Asia melakukan hal ini jika ada perubahan jadwal, walaupun hanya berubah 5 menit saja. Sangat disayangkan Qatar yang masuk dalam The World’s Top 10 Airlines tahun 2016 versi Skytrax tidak melakukan hal yang dilakukan oleh budget airline.

Jadi tips yang bisa saya bagi agar kamu tidak mengalami kejadian gelap yang sama dengan saya adalah:

  • Selalu cek kembali jadwal penerbangan dengan TELITI
  • Cek akan ada event apa pada hari akan melakukan perjalanan terutama jika berada di kota besar dan / atau kota yang terkenal dengan kemacetannya
  • Selalu siapkan dana cadangan. Ini sebenarnya standar budgeting dalam liburan untuk selalu menyiapkan dana cadangan jika terjadi hal yang tidak diinginkan.

Selalu ada cerita ketika kita berlibur dan pengalaman buruk memang bisa saja terjadi. Tapi jangan sampai pengalaman itu membuat kita kapok untuk jalan-jalan. Selamat berlibur…jangan keasyikan baca blog saya, lihat sudah jam berapa, jangan sampai ketinggalan pesawat.

Advertisements

3 thoughts on “Luka Lama itu Bernama Ketinggalan Pesawat

  1. Wah cerita yang di Paris kesel banget ya. Temenku pernah ketinggalan pesawat di Jerman tapi untungnya bisa ganti hari dengan nambah duit (lumayan banyak tapi gak semahal harga tiket PP).

    Aku juga pernah ketinggalan pesawat sekali, untungnya beli tiket barunya masih terjangkau. Emang gak enak banget kalau ketinggalan pesawat. >.<

    1. Iya, ngeselin banget, terutama petugas air france yang ngegemesin itu.
      Lumayan ga memberatkan ya kalo nambah duit. Gimana ceritanya jatohnya jadi ga beli tiket baru?

      1. Kalau gak salah tiketnya itu emang beli yang harga biasa, bukan promo. Biasanya bisa diganti harinya in case mau ada perubahan tanggal pergi atau pulang, cuma kena biaya tambahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s